0

Dreaming Britain


Saya baru duduk di kelas 1 SMA di salah satu SMA negeri di Jakarta, tapi keinginan saya untuk bersekolah di Inggris sudah terpendam lama. Sejak kecil, saya sering kali menonton film yang mengambil latar belakang di Inggris, mulai dari film Love Actually, Notting Hill, sampai film fantasi seperti Harry Potter. And I always thought to myself, “Wow, Britain’s one heck of an amazing place.”

Saya memandang Inggris sebagai negara yang mencerminkan traditionalism and modernism. Mulai dari penduduknya, sampai arsitektur gedung-gedungnya merupakan perpaduan antara old and new. Inggris selalu bergerak mengikuti zaman, tanpa meninggalkan tradisi-tradisi lama yang sudah mendarah daging.

Penduduknya bermoral tinggi, disiplin, dan berkelas. Hal ini dapat dilihat dari sikap mereka yang selalu melakukan things properly and with manner. Mulai dari hal-hal kecil seperti tata cara makan yang benar, sampai cara mereka berkomunikasi dengan orang lain, semuanya berlandaskan aturan dan tata krama. But at the same time, penduduk di sana juga maju, selalu mengikuti dan turut berpartisipasi dalam perkembangan dunia. Nilai-nilai seperti inilah yang saya harap dapat saya pelajari dan bawa ke Indonesia untuk diterapkan, dan menunjukkan bahwa kita masih bisa memiliki identitas dan melebur dengan dunia modern.

Other than that, kota-kota di Inggris tertata rapi. Arsitekturnya terdiri atas bangunan peninggalan masa kuno yang klasik, elegan dan breathtaking, serta desain kontemporer yang menciptakan perpaduan yang enak dilihat. Selain itu, transportasi umum disana, seperti the tube (London's underground transportation), terurus dan dioperasikan dengan baik sehingga dapat melayani masyarakat secara penuh.

I also think that Britain has a multicultural society. Penduduk Inggris tidak hanya terdiri dari orang asli Britania Raya, sebagian merupakan ras keturunan, seperti keturunan Afrika dan India . A multicultural background bisa membantu seseorang untuk meningkatkan pengetahuan tentang kebudayaan di dunia, bahkan mengajarkan untuk bertoleransi.

Not to mention, Inggris bisa dibilang merupakan pelopor dunia modern. It changed the world with various innovation (seperti dibuatnya Bill of Rights 1689 yang merupakan cikal bakal dari Hak Asasi Manusia di dunia), it is also home to pop culture (Does the name ‘The Beatles’ and Julie Andrews ring a bell?) and tons of influential people, dari ilmuwan terkenal Isaac Newton, sastrawan William Shakespeare, bahkan aktris film pemenang Oscar Elizabeth Tayor, berasal dari Inggris. A good output comes from a good process, dan saya berharap bahwa mungkin suatu hari, dengan menjalani pendidikan di tempat yang menelurkan banyak tokoh ternama dunia, I could be just like them.

And to top it all off, Britain is home to many world’s top universities. Berdasarkan ranking THE-QS (Times Higher Education) 2009, 18 perguruan tinggi di Inggris masuk ke dalam daftar 100 besar universitas terbaik di dunia. 3 perguruan tingginya juga menempati posisi 3, 4, dan 5 di ranking perguruan ilmu sosial terbaik di dunia di daftar yang sama. Kebetulan, saya ingin mendalami ilmu ekonomi, dan London School of Economics and Political Science merupakan sekolah impian saya sejak dulu.

Alasan-alasan di atas merupakan segelintir dari sekian banyak alasan yang mendasari keinginan saya untuk bersekolah di Inggris. All my life, I’ve imagined myself answering “London School of Economics and Political Science” when asked of which school am I attending, or calling Britain as the country in which I am studying. I always dream that someday I’d be strutting around Portobello Road, shopping at Harrods, watch concerts in Wembley Stadium, or witness a live Manchester United game in Old Trafford. Hopefully, I could fulfill those dreams someday.

0 Meinung: