


Sebelom mulai, mending gue jelasin subsi itu apa.
Susah juga sih jelasinnya. Emang konsepnya sebenernya kurang lebih kaya ekskul, tapi with a broader ruang lingkup. Say, ekskul sepak bola dan basket itu tergabung di subsi olah raga, band sama tari tradisional art, blablabla. Dan semua anak wajib ikutan subsi. Walaupun sebenernya gue nggak setuju sama konsep ini, mengingat nggak semua orang bisa bertanggung jawab terhadap tugas mereka masing-masing, tapi yaudah lah terima aja. Motto gue di 8 sekarang: terima aja. Karena emang sistemnya rigid banget sampe if you dare to criticize = pembangkang.
Anyways, gue ikut subsi Media Siswa. Atau singkatnya Mesis. Pokoknya ini subsi yang nanganin segala hal yang berbau media, mulai dari majalah sekolah sampe buku tahunan. Ada 5 divisi: cyber, majalah, film, fotografi, sama komik. Kebetulan gue emang suka nulis jadi gue masuk divisi majalah.
Perjalanan gue selama 2 tahun terakhir bersama Mesis ini............banyak ups and downs nya. Waktu perekrutan, by some reason gue angkat tangan buat jadi penanggung jawab angkatan. Gangerti juga kenapa, dan gangerti kenapa gue bisa kepilih. Well, either way, I'm stuck sama mereka. Bersama menjalani kader yang super sampah
Pas gue ketiban tanggung jawab buat jadi PJ, gue harus merelakan aspek lain di hidup gue spiraling out of control. Softball jadi terbengkalai, padahal seleksi kejurnas junior itu tinggal berapa bulan lagi. Nilai gue terjun payung tanpa parasut. Intinya idup gue kacau. Dan by that time I despise Mesis so much that I felt like quitting. Ditambah lagi segerombol manusia keras kepala yang sok tau dan mau-maunya sendiri. MATI AJA LO (telat)
Terus gue lolos ke seleksi tahap 2 buat Junior DKI (walaupun akhirnya gak keterima) terus pelantikan udah lewat jadi gue ngerasa nggak ada gunanya lagi gue ngurusin dan gue udah nggak terikat tanggung jawab apa-apa, jadi gue bener-bener meninggalkan Mesis saat itu. Gapernah ikut kumpul. Gapernah ngapa-ngapain. Gue mau fokus softball. Tapi, lagi-lagi, ada temen yang nggak maklum, dikira gue ngambek gara-gara nggak lulus seleksi LKS. YEEEEE ngaco aja deh, gue juga nggak niat kali daftarnya, orang gue daftar cuma gara-gara dibujukin (atau lebih tepatnya diteror, sampe di DM di Twitter dan disapa-sapa di MSN segala) sama seseorang, jelas-jelas gue bilang gamau ikut terus nyokap gue udah bilang gausah, tapi diiming2in mulu padahal akhirnya gak keterima juga. Loh kok jadi ngomel? Tapi sekarang gue udah berdamai sih sama orang itu haha. Terus ada juga si kakak OSIS yang ngoceh-ngoceh "kalian masih punya PJ gak sih???" pas gue nggak dateng acara Mesis gitu. Duh maaf aja sis (karena dia suka shopping online) pas lo lagi acara gak jelas lari-lari di Taman Mini, gue lagi ada seleksi. LEBIH PENTING MANA, HAH? Kan gue juga udah demisioner sebagai PJ, lo mau gue ngurus sampe kapan sih *kesel*
Yaudah, gapenting ngomongin itu. Anywayssss, sekalinya gue dateng ngumpul Mesis, tiba-tiba acara malam kekerabatan jadi pindah ke rumah nenek gue karena mendadak si Nevny rumahnya nggak bisa dipake. Terus nyokap gue keluar duit banyak gitu deh ngurusin anak-anak yang berkeliaran di rumah nenek gue tanpa ada biaya akomodasi. Intinya: gue ngasih kontribusi kan, walaupun gue udah MALES banget sama Mesis waktu itu.
Dan di saat deket-deket pemilihan ketua, dan setelah gue kecoret di tahap terakhir seleksi junior, akhirnya gue kembali lagi ke pangkuan ibu pertiwi. Salah. Pokoknya gue aktif lagi deh. Gue ikut ngurus Takitri, gue...........banyak deh. Terus kebetulan salah satu calon ketuanya itu temen gue sejak SMP dan setelah negosiasi panjang, akhirnya gue jadi wakil ketua deh wkwkwk. The only reason why I wanted to become wakil ketua (And yes, not ketua, karena gue males) itu karena I needed something for my CV. But I got a whole lot more than that.
Gue jadi wakil ketua 1, yang tugasnya ngurus buku tahunan dan majalah sekolah "Takitri" Dan selama ngurus kedua proker andalan Mesis (tssssah) itu, gue bener-bener belajar banyak. Mulai dari ngurus dana (karena PJ dananya gabut), terus bikin artikel, bikin layout, you name it. And also some managerial skills, belajar bikin timeline dkk. Kalo ditanyain, ada nggak sih manfaat gue ikut Mesis? Jawabannya = banyak. Di Mesis lah gue menemukan pengganti bagi kekurangan yang ada di 8, selama gue di Labsky, gue selalu dituntut untuk mengerjakan sesuatu semaksimal dan sekreatif mungkin. Tapi di 8, bikin presentasi dengan template yang standar dengan font Arial itu udah acceptable.
Selain itu gue juga belajar berorganisasi. Walaupun sampe sekarang I'm still such a mess, tapi gue udah mulai belajar buat ngatur orang. Dan belajar untuk bilang nggak, karena sebelumnya gue yes man banget. Dan sebenernya gue nggak setuju sama konsep kader yang ngomel nggak keruan itu karena, walaupun kata kakaknya "kami tuh kaya gini biar kalian kuat, nanti kalian kalo ngadepin guru atau kakak kelas lainnya, mereka bakal lebih galak" bullshit lah. Selama gue di Mesis gue nggak pernah kok ngerasain dimarahin separah itu, malah gue belajar untuk bisa ngasih perlawanan terhadap argumen yang rasional, bukan teriakan nggak berisi kaya gitu.
Gue juga belajar untuk bisa kerjasama sama orang-orang aneh/gabut/ngeyel, you name it. Mesis itu subsinya besar, nggak semua orang kompeten. Banyak yang kerjaannya cuma ngomong doang terus nggak kerja, malah ada yang nggak ngomong, nggak kerja, muncul aja nggak pernah. Dan juga ngadepin kakak kelas yang nggak tau diri, udah buku tahunannya gue yang ngurusin, kerjaannya lewat deadline mulu. Nggak ngebantu. Melatih kesabaran banget.
Sekarang, di saat udah mau demisioner dan orang-orang galau setengah mampus gara-gara udah mau berpisah dengan subsinya, gue ketularan. Lumayan galau sih, tapi abis itu kan life must go on. Toh lo akan ketemu lagi kan sama temen-temen sesubsi lo, walaupun sekarang lo ngobrol sama dia bukan untuk ngomongin buku tahunan, atau ngurusin Takitri. Tapi mereka nggak bakal kemana-mana kan? Lagian gue juga bukan salah satu yang merasa Mesis adalah keluarga gue.
Hmmm, keluarga. Konsep yang ditanemin sama kakak kelas pas kader, kalo subsi adalah keluarga. Mengingat gue sering banget up and down sama Mesis, gue nggak ngerasa kalo Mesis adalah keluarga gue. Karena kata keluarga itu sakral, hanya dipakai untuk mendeskripsikan sekelompok manusia yang ada hubungan darah sama lo. Dulu seorang adik kelas gue pernah ngomong "keluargaku kan di rumah, kak" dan emang menurut gue demikian. Mungkin ada lah sebagian orang yang gue anggep deket, tapi nggak keluarga juga sih................
Oh iya, soal orang-orang deket. Kalo bukan karena Mesis mungkin sampe sekarang gue gapernah pacaran kali ya #salah. Mesis memperkenalkan gue sama a wide range of people that I never thought I would ever be friends with. The geeks, drama-queens/kings, queen bees, nerds, anime-lovers, K-Pop enthusiasts, ambitious people, ha semuanya ada deh. Dan walaupun gak semuanya baik, ada juga lah yang berkesan di hati gue (duileh) Dan membuat gue deket sama cowok teroke yang pernah gue kenal seumur hidup gue.............ODDY. WAKAKAKAK nah, I'm just saying this karena ngerasa bersalah kemaren ngeupload foto nista dia. I've grown to love some, and hate some, but that's life, you can't love everyone.
Anyways, di saat-saat seperti ini - endings, I mean - I tend to look back. Dan walaupun sometimes Mesis itu becomes the shittiest kind of shit, gue nggak akan milih subsi lain. Karena subsi ini lah yang menjadi bagian besar dari masa SMA gue, di subsi ini gue menjadi dewasa.
Next post: Tentang seseorang~
0 comments:
Enregistrer un commentaire